Perubahan pola mata pencaharian belakangan ini cenderung mengeksploitasi alam. Upaya konservasi seolah melawan arus zaman. Terlebih lagi kegiatan konservasi dianggap lebih boros waktu dan biaya. Kurang ekonomis.
Kegiatan melindungi keanekaragaman hayati lebih didominasi lembaga nirlaba yang memperoleh dukungan pendanaan. Sedangkan, geliat konservasi yang lahir dan tumbuh dari akar rumput tampak lesu. Kearifan lokal yang dulu tertanam dalam kegiatan masyarakat semakin ditinggalkan. Termasuk kegiatan pelestarian budaya berbasis alam dan pengenalan pada alam.
Pelan-pelan kondisi itu kian membawa keanekaragaman hayati kian mengakhwatirkan. Akankah kepunahan terjadi tanpa dunia sempat menyadarinya?
Kondisi itu menjadi keprihatinan sekelompok pemuda di Desa Jambi Tulo dan Desa Jambi Kecil, Kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi. Para pemuda khawatir biodiversitas anggrek alam di Muaro Jambi bakal punah. Padahal, mereka tahu persis bahwa wilayahnya sangat berlimpah akan keragaman spesies anggrek.
Bahkan, di masa lalu, para pemuda juga sempat memanen hasil dari jual beli anggrek-anggrek liar itu. Mulanya mereka jual anggrek yang dihargai per helai daun. Semakin eksotis jenisnya maka semakin tinggi pula harganya. Banyak kolektor yang meminati anggrek dari Muaro Jambi. Harganya bisa bernilai jutaan rupiah setiap rumpunnya.
Selain sebagai koleksi pribadi, para kolektor juga menjual ke sesama kolektor bahkan hingga ke luar negeri. Ironisnya, anggrek alam tersebut menjadi indukan untuk persilangan dan varian anakannya diklaim oleh negara luar. Sedangkan anggrek sebagai warisan dari hutan tropis Muaro Jambi nyaris tak dikenal.
Ketika masyarakat beralih dari pertanian dan perkebunan multikultur ke jenis tanaman monokultur seperti sawit dan karet, saat itu pulalah pembukaan hutan terjadi secara besar-besaran. Anggrek yang hidup subur di atas pohon semakin hilang seiring pembukaan lahan.

Kondisi tersebut menggugah kesadaran di hati yang paling dalam. Yang sebelumnya mengambil anggrek untuk dijual berubah menjadi penyelamat. Pada 2009 kelompok pemuda tersebut membentuk Gerakan Muarojambi Bersakat (GMB) untuk menjalankan niat pelestarian anggrek tersebut. Sesuai dengan namanya, GMB bercita-cita ingin meng’anggrek’kan Muaro Jambi. Mereka menyelamatkan anggrek karena mengerti akan nilainya, justru akan makin bertambah jika tetap hidup dan berada di Muaro Jambi, habitat alaminya.
Tentu ini bukan perjuangan yang mudah. Sejak 2009 hingga 2013, dengan kemampuannya sendiri, GMB mulai bergerilya ke desa-desa untuk mencari anggrek yang berada di dalam hutan yang hendak diubah menjadi kebun. Para pemuda desa yang berjumlah sekitar 15 orang ini mulai mencari info dan melakukan survei. Setelah survei, tim pun diterjunkan ke lokasi. Untuk mengambil anggrek yang berada di ketinggian perlu keahlian memanjat karena tanpa menggunakan alat pengaman sama sekali.
Mereka senang jika mendapatkan anggrek-anggrek yang masih hidup alami dan dapat diselamatkan. Namun, di sisi lain merasa sedih karena anggrek yang mereka selamatkan terpaksa dipisahkan dari habitat alaminya yang sebentar lagi dibabat habis. Tak jarang pula mereka terlambat. Hutan sudah terlanjur dibuka dan ditumbang. Mereka memunguti anggrek-anggrek cantik itu dari batang-batang kayu bekas tumbangan.

Kemampuan mengenali anggrek dilakukan secara otodidak yang sebenarnya sudah dipelajari sejak menjadi pemburu anggrek. Dalam kurun waktu tersebut, GMB telah melakukan aksi penyelamatan anggrek alam di belasan desa di tiga kabupaten, yakni Muaro Jambi (Kecamatan Maro Sebo, Kumpeh, dan Tanggo Rajo), Batanghari (Kecamatan Condong dan Jembatan Emas), dan Tanjung Jabung Timur (Kecamatan Dendang dan Geragai).
Ribuan rumpun dari 100-an jenis anggrek dan pakis berhasil dikumpulkan. Anggrek tersebut kemudian dirawat sementara di rumah para anggota GMB. Festival Anggrek Provinsi Jambi pada 2012 pernah diikuti dan GMB meraih 12 penghargaan dari berbagai jenis mata lomba. Dari situ, GMB semakin yakin akan keindahan anggrek alam khas habitat rawa Muaro Jambi.
Ketua Umum GMB Edwar Sasmita dan Ketua I Adi Ismanto meyakini bahwa anggrek hasil penyelamatan tersebut harus segera dilepasliarkan di habitat alaminya. Cara hidup anggrek sangat kompleks dan hanya di hutan sebagai tempat hidup terbaik. Butuh pengetahuan dan biaya yang besar untuk dapat meniru bagaimana alam menumbuhkembangkan anggrek secara ideal.
Sejak 2013, kegiatan penyelamatan anggrek pun dihentikan dan GMB fokus pada upaya pencarian habitat alami sebagai tujuan pelepasliarannya. Tak perlu waktu lama, GMB menemukan area yang cocok. Sebuah areal hutan yang ditinggalkan para pembalak liar berada tak jauh dari Desa Jambi Tulo. Masyarakat setempat menyebut area itu Hutan Pematang Damar atau Batang Damar yang masuk dalam wilayah tiga desa yakni Jambi Tulo, Mudung Darat, dan Bakung di Kecamatan Maro Sebo.
Dari hasil pemetaan secara mandiri, luas total Pematang Damar lebih dari 600 hektar. Area inti berupa hutan sekunder seluas 241,4 hektar yang dikelilingi persawahan kuno yang sudah ditinggalkan. Pematang Damar sumber masyarakat setempat untuk mencari rotan dan ikan air tawar. Walaupun ditumbuhi pohon-pohon kecil hingga sedang, lantai hutan selalu dalam kondisi tergenang karena termasuk areal gambut dengan kedalaman maksimal sekitar 15 meter.
Topografi Pematang Damar yang dilintasi sungai membuatnya seperti kolam retensi yang menjadi pengaman banjir dari luapan Sungai Batanghari dan saat kemarau tetap menjadi sumber air bagi persawahan dan kehidupan masyarakat di desa-desa sekitarnya. Selain anggrek, Pematang Damar juga menjadi habitat bagi kalong-kalong besar yang membantu penyerbukan pohon-pohon buah warga seperti duku dan durian.
GMB mencoba untuk mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi untuk menetapkan areal Pematang Damar sebagai kawasan lindung anggrek alam. Bila itu disetujui, ribuan anggrek hasil penyelamatan akan dilepasliarkan dan dapat dikelola menjadi obyek wisata desa. Gayung bersambut, Bupati Burhannudin Mahir yang menjabat kala itu, setuju dan mulai mensosialisasikan kepada tiga desa, yakni Jambi Tulo, Mudung Darat, dan Bakung.
Namun, kenyataannya sudah ada pihak-pihak swasta yang berinvestasi membuka kebun dan diloloskan perizinannya melalui oknum aparat desa. Hal itu terlihat dari kegiatan pengukuran lahan dan pembuatan kanal-kanal sebagai batas wilayah. Pembangunan kanal biasanya dilakukan oleh perusahaan untuk menguras air dalam lahan basah.
Genangan air di rawa Pematang Damar pun menyusut drastis. Pohon-pohon kecil dan ilalang menjadi kering kerontang. Kekuatiran Pematang Damar akan dibuka menjadi areal perkebunan terbukti. Pada pertengahan 2015, saat puncak kemarau, terjadi kebakaran besar di Pematang Damar. Seluruh areal habis terbakar tanpa sisa. Kebakaran menghanguskan anggrek-anggrek dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Jambi pun tertutup kabut asap tiga bulan lamanya.
Perasaan kawan-kawan GMB menjadi hancur. Harapan Muaro Jambi untuk dapat memiliki hutan anggrek alam yang dikelola desa pupus sudah.

Hidup di pekarangan rumah dengan perawatan ala kadarnya membuat anggrek hasil penyelamatan satu persatu mati. Dalam kenyataannya memang sangat sulit untuk merawat anggrek alam di luar habitatnya.
Anggrek mulai coba untuk dirawat dan dipelihara dengan sangat sederhana. Media tanamnya menggunakan akar pakis, serutan kayu, dan potongan kayu. Sedangkan pot menggunakan batang kayu, dan alat-alat bekas seperti panci, ember, bahkan helm. Untuk penyubur tanaman digunakan air bekas cucian beras, ikan, dan limbah dapur. Proses pembelajaran otodidak secara trial and error ini berakibat banyaknya rumpun anggrek mati di tangan penyelamatnya sendiri.
Titik Nadir
GMB berada di titik nadir. Beberapa anggota tidak bisa aktif karena harus mencari nafkah. Pengurus intinya pun mulai menyerah karena tantangannya untuk berjalan luar biasa berat. Perawatan anggrek alam perlu modal besar, tempat, dan personil untuk merawat secara rutin. Kondisi buntu ini membuat GMB vakum sekitar dua tahun lamanya.
Pematang Damar boleh terbakar tetapi upaya pelestarian anggrek alam harus terus berjalan. Pada 2017, Adi Ismanto menawarkan gagasan untuk menjadikan kebun sawitnya menjadi areal pelestarian anggrek alam yang dibentuk menyerupai habitat alaminya. Setelah melalui diskusi yang panjang akhirnya pembangunannya dimulai. Alat berat menggali kanal sepanjang 500 meter menyesuaikan alur air yang ada.
Tempat tersebut diberi nama Taman Sakat Lebung Panjang, dalam bahasa lokal yang berarti taman anggrek kolam panjang. Pembangunan dan pengelolaan Taman Sakat Lebung Panjang di Desa Jambi Tulo adalah babak baru perjuangan pelestarian anggrek alam berbasis komunitas.
Upaya tersebut berbuah manis, banyak dukungan yang mengalir yang makin menguatkan GMB agar perjuangan pelestarian anggrek alam ini terus berjalan dan dikembangkan. GMB membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam melestarikan anggrek. Program donasi 1001 anggrek macan yang dicanangkan 2018 terlaksana dengan baik. Taman Sakat Lebung Panjang menjadi ruang interaksi masyarakat dalam bidang lingkungan, pendidikan, seni dan budaya tradisi.