Anggrek Alam Muaro Jambi, Potensi Ekonomi yang Belum Terjamah

Indonesia dengan posisi geografis dan iklim tropisnya mendatangkan kekayaan alam tak ternilai. Sinar matahari hadir sepanjang tahun sekaligus hujan yang melimpah. Mewariskan keanekaragaman hayati yang tak tertandingi daerah lain di iklim subtropis dan kutub.

Hutan hujan tropis Indonesia menjadi rumah bagi jutaan jenis puspa dan satwa. Keanekaragaman hayati di negeri ini menjadi tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Bahkan, jika digabungkan dengan laut, menjadi nomor satu. Kekayaan ini menobatkan Indonesia sebagai mega bidoversitas dunia.

Terdapat setidaknya 6.000 spesies tumbuhan, 1.000 spesies hewan, dan 100 spesies jasad renik yang telah diketahui potensinya. Telah dimanfaatkan oleh masyarakat dalam menunjang kehidupannya.

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas berperan penting menjaga kualitas hidup seluruh makhluk satu planet bumi termasuk manusia. Setiap jenis tumbuhan dan satwa liar tercipta dengan peran unik yang penting dan saling menunjang satu sama lain dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Keanekaragaman hayati  secara nyata menyediakan kualitas hidup yang baik. Air bersih, udara segar, dan tanah yang subur dihasilkan oleh ekosistem yang seimbang. Kondisi alam yang terjaga membentuk budaya masyarakat yang sarat akan nilai-nilai kearifan lokal yang luhur.

Kabupaten Muaro Jambi juga memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Berbagai jenis tumbuhan lokal berdampingan dengan tingginya ragam spesies satwa. Salah satu tumbuhan yang kerap luput dari perhatian masyarakat adalah anggrek.

Dengan topografi dominan dataran rendah, anggrek-anggrek di Muaro Jambi banyak hidup di area perairan dan  rawa-rawa. Ragam jenis anggrek mulai dari ukuran kecil hingga besar dapat dijumpai menjuntai di pepohonan. Spesies anggrek terbesar di dunia yakni anggrek tebu atau anggrek macan (Grammatophyllum speciosum) tumbuh subur di Muaro Jambi. Di habitat alaminya, anggrek macan pernah ditemukan di atas pohon besar dengan ketinggian 12 meter, dengan berat rumpun total mencapai 2 ton.

Dalam bahasa lokal Muaro Jambi, anggrek dan jenis tanaman paku-pakuan atau pakis disebut sakat. Anggrek selain memiliki nilai estetika dengan bunganya yang indah juga menjadi sumber makanan bagi lebah hutan. Madu yang dihasilkan dari sari bunga anggrek alam memiliki rasa yang berkualitas lebih baik dibandingkan bunga tumbuhan lainnya.

Lebah liar membuat sarang hanya di pohon-pohon dengan tajuk yang lebar. Masyarakat lokal menyebutnya sebagai pohon sialangan, tidak semua pohon bisa menjadi pohon sialangan. Rasa syukur terhadap berkah yang diberikan alam dimaknai secara khusus. Pengambilan madu sialangan menggunakan ritual khusus sebagai bentuk penghargaan terhadap karunia alam.

Tradisi pengambilan madu hutan ini ada di berbagai daerah, seperti Menumbai di Riau, Meudayang di Aceh, Muar Wanyek di Kalimantan, masyarakat adat di Timor Amfoang, Nusa Tenggara Timur, dan masih banyak lagi.

Di Muaro Jambi, walaupun semakin langka, tradisi sialangan madu masih dapat dijumpai di desa-desa di Kecamatan Maro Sebo. Tradisi ini dilakukan oleh kelompok masyarakat lokal yang sudah berpengalaman dan dipercaya sebagai orang-orang terpilih. Proses pengambilan madu hutan dilakukan pada malam hari saat kondisi bulan mati. Lantunan syair-syair dengan bahasa melayu didaraskan sebelum sarang madu diambil.

Syair yang dilantunkan dari atas pohon ini memecah keheningan malam terasa begitu magis. Rasa syukur dan penghormatan kepada alam seperti disampaikan secara langsung. Warga yang menunggu di bawah pohon sialangan berharap seluruh pemanjat yang tanpa bekal pengaman apapun diberi kelancaran dan keselamatan.

Pemanjat utama kemudian memukul-mukulkan obornya sehingga percikan bara turun ke lantai hutan. Suara jutaan lebah mengejar cahaya bara turun ke bawah. Saat lebah meninggalkan sarangnya, pemanjat utama mulai mengiris sarang lebah yang penuh berisi madu. Sebagian ditinggalkan agar lebah tetap mau bersarang.  Warga yang dengan sabar menunggu di bawah pohon sialangan akhirnya dapat menikmati madu dengan penuh sukacita.

Anggrek merupakan komponen penting dari setiap ekosistem hutan dengan hubungan timbal balik yang sangat rumit dengan biota lainnya. Setiap jenis anggrek memiliki karakter tumbuh yang berbeda-beda berdasarkan kondisi alam dan intensitas cahaya yang dibutuhkan. Kehadiran anggrek bersama dengan tanaman epifit merupakan indikator akan ekosistem hutan yang sehat. Dengan kebutuhan kondisi hidup tersebut, anggrek alam menjadi  tanaman yang sensitif terhadap perubahan habitat bahkan tekanan kecil sekalipun.

Masyarakat Jambi Tulo meyakini bahwa anggrek adalah bunga dewo atau bunganya para dewa. Bernilai sakral dan perlu dilindungi. Kehadiran anggrek ditiru dalam laku kehidupan masyarakat. Pesan yang diberikan adalah menumpang hidup di atas pohon tanpa mengambil sari makanan induknya, melainkan beri manfaat bagi lingkungan sekitar. Di antaranya lewat keindahan dan semerbak wangi bunganya.

Keanekaragaman hayati di Indonesia termasuk anggrek saat ini mengalami tekanan yang cukup berat. Ancaman utama bagi populasi anggrek di alam adalah perusakan habitat dan pengambilan yang berlebihan (K S Shasidhar;2012). Berubahnya hutan menjadi areal perkebunan tanaman monokultur menghilangkan beragam spesies tumbuhan. Hilangnya habitat alami juga memicu perjumpaan satwa liar dan manusia sehingga berpotensi untuk diburu dan dimusnahkan.

Potensi anggrek Indonesia khususnya Sumatera belum dimanfaatkan dengan optimal. Potensi jasa lingkungan dan ekonominya mengalami ancaman serius akibat dagradasi hutan menjadi areal produksi manusia.

Populasi anggrek menyusut seiring hilangnya habitat anggrek di alam. Budidaya anggrek alam masih sedikit dilakukan karena masih rendahnya pengetahuan masyarakat.

Pengawasan terhadap perdagangan anggrek alam juga masih minim. Pemerintah masih lebih menaruh prioritas pada penanganan perdagangan satwa liar. Padahal laju perdagangan anggrek alam indukan atau F1 yang berasal dari dalam atau pun luar area konservasi tak kalah masif. Bahkan, tak sedikit anggrek dijual utuh hingga keluar negeri sebagai bahan induk perkawinan silang. Tujuannya untuk menghasilkan jenis-jenis anggrek hybrid baru.

Secara ekonomi, anggrek dimanfaatkan di bidang hortikultura dan tanaman hias. Manfaat ekonominya juga meningkat di bidang farmasi dan industri wewangian. Memiliki bentuk bunga yang indah dan warna-warnanya yang memikat dan dapat diperdagangkan (Anwar, et al 1994 dalam Badu, 2013).

Banyak anggrek diketahui memiliki khasiat obat dan digunakan dalam berbagai upacara keagamaan, hiasan, dan pesta. Anggrek juga dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan tradisional, seperti tas dan gelang. Wangi anggrek alam dimanfaatkan masyarakat Eropa sebagai bahan campuran bahan minyak wangi atau minyak rambut (Irawati, 2011).

Kebutuhan lokal anggrek potong dan anggrek spesies baru dipenuhi sekitar 30 persennya saja. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Namun, di sisi lain, menjadi peluang besar karena sebenarnya Indonesia memiliki ratusan jenis anggrek alam.

Potensi ekonomi anggrek tidak hanya sebagai bunga potong dan tanaman hias, di berbagai negara, anggrek sudah dikembangkan menjadi tanaman herbal, biomedis, wewangian, dan area ekowisata. Besarnya potensi ekonomi ini akan memberikan alternatif sumber penghidupan masyarakat yang saat ini hanya terpaku pada perkebunan monokultur seperti sawit dan karet saja.

Media Sosial Taman Sakat

Terus terhubung dengan Taman Sakat untuk mendapatkan kabar mengenai inisiatif, kegiatan serta perkembangan dari Taman Sakat.